Tradisi Berburu Paus di Lamalera

Diposkan oleh Blogger Galau on Selasa, 17 April 2012

Berburu paus (sumber:  touristspot.ruvenga.com)

Jika berkunjung ke Flores pada bulan Mei nanti, sempatkanlah berkunjung ke Lamalera di Kabupaten Lambata, NTT. Di sana, Anda bisa menyaksikan tradisi berburu paus yang sudah dilakukan turun temurun sejak abad ke-16.

Desa Lamalera terletak di selatan Pulau Lembata, Nusa Tenggata Timur. Penduduk di desa ini memiliki tradisi yang tak biasa, yaitu berburu paus. Jenis paus yang diburu pun bukan sembarang paus, yaitu hanya sperm whales dan pilot whales. Khusus untuk paus biru atau blue whales, masyarakat Lamalera tidak memburunya, karena paus biru dianggap sebagai penyelamat leluhur warga Lamalera. Selain itu, paus biru juga merupakan paus langka dan dilindungi.
Ujung tombak senjata pemburu paus (dok. Giffarin Rindiwandana/ACI)
Penasaran dengan tradisi ini? Anda bisa datang saat musim perburuan paus yang biasanya jatuh antara bulan Mei-Oktober. Saat itu, laut sangat tenang, jadi memudahkan warga untuk berburu paus.

Yang menarik dari perburuan paus ini adalah peralatan yang digunakan. Jangan bayangkan Anda akan melihat peralatan modern untuk berburu. Warga Lamalera masih menggunakan peralatan yang sangat tradisional untuk berburu. Dengan hanya bermodalkan perahu kayu dan bambu runcing berujung besi, mereka siap memburu mamalia laut paling besar ini.
(dok. Giffarin Rindiwandana/ACI)
Ternyata, sebelum perburuan dimulai, beberapa ritual harus warga Lamalera lakukan. Pada tanggal 28 atau 29 April, biasanya Suku Wujon di Lamalera yang tinggal di atas gunung akan turun ke pantai dan berdoa memanggil paus.

Ritual tidak sampai di situ, pada tanggal 30 dan 31 April semua masyarakat Lamalera akan berdoa untuk keselamatan nelayan yang akan berangkat ke laut. Karena kebanyakan masyarakat Lamalera menganut agaman Kristen, doa pun dilakukan sesuai agama Kristen. Seorang pemimpin akan berdiri di depan mimbar yang telah disediakan di pantai.
Garasi tempat parkir kapal-kapal pemburu paus  (dok. Giffarin Rindiwandana/ACI)
Keesokan harinya pada 1 Mei, akan disediakan 20 kapal untuk berburu paus. 20 perahu tersebut menandakan jumlah suku yang ada di Lamalera, tapi dari 20 perahu, hanya satu yang diperbolehkan untuk berlayar pada hari pertama. Perahu tersebut adalah perahu Paraso Sapang yang menandakan suku tertua di Lamalera.

Apabila Paraso Sapang berhasil menemukan paus, 19 kapal yang lain baru diperbolehkan keluar dan membantu Paraso Sapang untuk berburu paus. Namun apabila Paraso Sapang tidak berhasil menemukan paus, maka pencaharian dilanjutkan pada keesokan harinya bersama 19 perahu lainnya.

Ada tiga jabatan penting dalam satu perahu, yaitu lamuri, matros dan lamafa. Lamuri adalah pemegang kendali perahu atau juru kemudi. Matros adalah kru perahu, sedangkan lamafa adalah jabatan terpenting di dalam perburuan paus. Lamafa berdiri di ujung kapal dan menombak paus.

Nantinya, daging hasil buruan akan dibagikan ke seluruh desa, bahkan ada juga yang menyimpannya untuk persediaan selama tahun. Biasanya daging paus buruan ini diolah dengan dikeringkan atau diasap.

Lukisan  kegiatan masyarakat Lamalera berburu Paus (dok. Giffarin  Rindiwandana/ACI)

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar